Tifus, Sepintas Kilas

TIFUS, SEPINTAS KILAS

Menurut penelitian di Bagian Anak FKUI tentang bayi yang kejang waktu baru lahir, 80 persen penyebabnya adalah tifus. Penyakit ini juga ikut menyumbang angka kematian bayi yang sangat tinggi di Indonesia dimana 90 persennya akibat penyakit infeksi.


Penyakit tifus umumnya berawal dari konsumsi makanan ataupun minuman yang tercemar oleh bakteri Salmonella typhi dan Salmonella typhimurium. Keduanya biasa terdapat pada makanan dan minuman yang kurang higienis ataupun dari sumber air yang tidak memenuhi syarat untuk dikonsumsi. Dengan kata lain, bibit penyakit masuk ke dalam tubuh melalui mulut, lalu menyerang tubuh, terutama saluran cerna.
Proses perkembangbiakan bakteri ini cepat, yaitu 24-72 jam setelah masuk ke dalam tubuh. Meski belum menimbulkan gejala, bakteri telah mencapai organ-organ hati, kandung empedu, limpa, sumsum tulang, dan ginjal. Rentang waktu antara masuknya kuman sampai timbulnya gejala penyakit sekitar 7 hari. Gejalanya sendiri baru muncul setelah 3 sampai 60 hari. Pada masa-masa itulah kuman akan menyebar dan berkembang biak. Organ tubuh lalu merangsang sel darah putih mengeluarkan zat interleukin. Zat inilah yang akan merangsang terjadinya gejala demam. Kuman yang masuk ke hati akan masuk kembali dalam peredaran darah dan menyebar ke organ tubuh lainnya.
Gejala yang mungkin timbul adalah mual, muntah, demam tinggi berfluktuasi atau naik-turun, nyeri kepala hebat, dan nyeri perut yang diawali sembelit, kadang diikuti diare bercampur darah. Pengobatan umumnya dilakukan bila pemeriksaan laboratorium memberikan hasil positif. Pemeriksaan laboratorium ini juga diperlukan untuk menentukan jenis antibiotik yang paling tepat.
Namun tidak seluruh bakteri Salmonella typhi dapat menyebabkan demam tifoid. Saat kuman masuk, tubuh berupaya memberantas kuman dengan berbagai cara. Misalnya, asam lambung berupaya menghancurkan bakteri dan gerakan lambung berupaya mengeluarkan bakteri. "Jika berhasil, orang tersebut akan terhindar dari demam tifoid,

Penderita tifus dari kalangan anak, 60 persennya adalah anak perempuan. Penyakit tifus mudah kambuh meski sudah sembuh, bahkan menular karena bakteri penyebabnya betah nongkrong bertahun-tahun di usus penderita.

Di Indonesia, penyakit tifus atau demam tifoid yang dulu sering disebut tifus abdominalis, tergolong penyakit endemis (selalu ada sepanjang tahun). Angka kejadiannya pun termasuk paling tinggi di dunia, antara 358-810 per 100 ribu penduduk setiap tahunnya; sedangkan angka kematiannya berkisar 1-5 persen dari jumlah penderita. Demikian papar Narain H. Punjabi, MD,

Penyakit ini juga bisa menyerang siapa saja; dari bayi, balita, anak usia sekolah, remaja, sampai dewasa. "Tapi pada bayi, umumnya jarang, karena bayi mendapat perlindungan dari ASI berupa zat kekebalan sIgA atau Imunoglobulin A sekretori," tutur peneliti di US-NAMRU2 Litbangkes RI ini. Mayoritas atau sekitar 80-90 persen penderita adalah anak-anak usia 2-19 tahun. Soalnya, anak belum menyadari pentingnya arti kebersihan perorangan atau higiene dan sanitasi atau kebersihan lingkungan. Selain, anak biasanya hanya menerima makanan (yang dianggap aman) dari orang tuanya dan sistem kekebalan tubuhnya pun belum berkembang sempurna.
Yang menarik, dari seluruh jumlah penderita di kalangan anak, 60 persennya adalah anak perempuan. Sayang, hingga kini belum diketahui pasti penyebabnya mengapa anak perempuan yang lebih banyak terkena tifus.

GEJALA BERAGAM
Sebenarnya, penyakit demam tifoid sudah lama dikenal. Kata "tifus" berasal dari bahasa Yunani "typhos" yang berarti "kabut". Pasalnya, ada gangguan kesadaran sebagai salah satu gejala yang sering dijumpai pada penderita. Gangguan kesadaran ini bisa berupa kehilangan orientasi dan persepsi, tak dapat tidur atau sebaliknya rasa kantuk yang hebat hingga ingin tidur terus dan tidak bisa dibangunkan atau baru bisa dibangunkan setelah dicubit keras. Bahkan, ada pula yang mengalami shock dan koma. Itulah mengapa, penyakit ini juga sering dikelirukan dengan penyakit demam lain yang disertai gangguan kesadaran.
Dari hasil pemeriksaan klinis, gejala yang biasanya terpantau
adalah demam, kondisi umum menurun, lidah kotor berupa lapisan putih atau kuning yang menempel di permukaan lidah, nyeri bila ditekan pada perut, teraba pembesaran hati dan limpa, denyut jantung berkurang, dan gangguan kesadaran. Sayang, gambaran klinis pada penderita anak sering tidak khas, hingga menyulitkan diagnosis dan menghambat penetapan pengobatan yang tepat. Belum lagi faktor kesulitan memperoleh contoh darah yang cukup untuk pemeriksaan laboratorium. Penyebabnya, lebih karena faktor psikologis anak seperti takut, menangis atau bergerak terus saat diambil darahnya, dan sebagainya, hingga akhirnya tak didapatkan contoh darah dalam jumlah cukup.

Gejala yang ditimbulkan pun sangat beragam dan dapat bervariasi dari ringan sampai berat. Antara lain, semakin lama demam semakin tinggi (rata-rata 40 derajat Celcius), lesu, nafsu makan hilang sama sekali, sakit kepala, sakit perut, kembung, mual, muntah, susah buang air besar tapi lalu mendadak mencret dan mimisan. Komplikasi terberat adalah perdarahan dan perlubangan atau kebocoran usus. Komplikasi lainnya seperti gangguan jantung, paru-paru dan ginjal, serta radang kantong empedu dan hati. Kadang juga menyerang jaringan tulang dan otak.

Sedangkan berat-ringan gejala yang ditimbulkan biasanya tergantung dari kuantitas, jenis dan keganasan bakteri, serta kekebalan tubuh penderita. Semakin banyak bakteri yang masuk dan semakin ganas sifatnya, gejala yang diperlihatkan juga semakin berat dan kompleks.
Adapun bakteri penyebabnya, ungkap Dr Soedjatmiko, SpA, MSi. dari Subbagian Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, ialah Salmonella typhi dan tipe invasif lain yang masuk ke dalam saluran pencernaan melalui mulut. "Sebagian bakteri kemudian menembus lapisan dalam dinding usus halus dan memproduksi racun endotoksin yang beredar ke seluruh tubuh." Sebagian lagi masuk dan berkembang biak dalam folikel getah bening usus, lalu ikut menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Sedangkan sebagian dari bakteri tadi "bersembunyi" dalam sel-sel tertentu hingga dapat hidup lama di dalam tubuh. Itu sebabnya, meski telah diberikan pengobatan dengan baik, 15 persen penderita demam tifoid dapat kambuh lagi di kemudian hari, terutama saat kondisi tubuh memburuk akibat terforsir kesibukan yang menggunung.

JANGAN ABAIKAN KEBERSIHAN
Kendati alat pencernaan yang diserang pertama kali, namun tifus bukan penyakit saluran pencernaan lokal, melainkan penyakit sepsis atau menjalar melalui darah. Perjalanan penyakit ini, terang Dr. Hudoyo Hupudio, MPH dalam simposium yang sama, terdiri dari beberapa fase. Pertama, fase inkubasi; bisa berlangsung 15 hari dan biasanya asimstomatik atau tak memperlihatkan gejala. Kemudian, fase invasif; ditandai demam mendadak antara 37-40 derajat Celcius. "Demam ini kemudian terkesan naik-turun disertai sakit kepala hebat dan gangguan pencernaan yang biasanya berlangsung selama seminggu." Demam baru menetap, meski tetap tinggi (40 derajat Celcius), dalam fase berikutnya yang biasanya disertai diare dan berlangsung 14 hari. Demam tinggi dalam waktu cukup lama ini biasanya menyebabkan rambut penderita botak akibat rontok.

Selanjutnya, fase penyembuhan; berlangsung relatif lama, setidaknya membutuhkan rawat inap 10-14 hari dan terapi yang adekuat atau memadai. "Bisa saja penderita dirawat di rumah, asalkan terus dipantau kemungkinan terjadi komplikasi, pemberian antibiotika yang tepat dan cairan yang cukup, serta mengutamakan kebersihan." Pada anak, dianjurkan untuk rawat-inap. Soalnya, penanganan pada anak relatif lebih sulit dan lama. Antara lain karena antibiotika yang dibolehkan untuk anak lebih terbatas, sementara untuk memastikan antibiotika mana yang bisa digunakan, harus berdasarkan biakan darah yang membutuhkan waktu beberapa hari.

Yang penting diperhatikan, kendati pengobatan telah usai dan penderita sudah merasa sembuh, jangan pernah abaikan kebersihan diri dan lingkungan.

Pasalnya, seperti dijelaskan Soedjatmiko, sebagian bakteri salmonella typhi ada yang tetap bercokol hidup dalam sel-sel tertentu, terutama dalam sistem empedu. Bakteri ini kemudian keluar ke usus 12 jari dan bercampur dengan tinja. "Nah, sebagian penderita tifus masih 'menyimpan' bakteri ini dalam tinjanya selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun meski mereka tak lagi merasakan keluhan penyakit ini. Mereka inilah yang disebut carrier atau pembawa karena meski tak sakit, mereka potensial menyebarkan penyakit." Para pembawa ini biasanya orang dewasa atau anak yang berumur kurang dari 5 tahun. Makanya, salah satu cara penularan penyakit ini melalui cemaran berupa sisa-sisa tinja di celana. Cara lain lewat baju, alas tidur, bantal, lap mandi, maupun tisu bekas, sabun dan toilet yang digunakan penderita.


DIBERI VAKSIN

Mengingat faktor kebersihan diri dan lingkungan sangat berperan terhadap pencegahan munculnya penyakit ini, Hupudio menyarankan untuk memberi vaksin pada anak-anak usia sekolah atau dewasa yang kerap makan-minum di warung yang kurang terjaga kebersihannya. Begitu juga anak umur 2 tahun yang mulai bermain di lantai atau bersosialisasi ke tetangga, "sebaiknya divaksin karena mereka termasuk kelompok yang rentan tertular dari pengasuh yang kurang menjaga kebersihan." Selain, mereka juga belum mampu mengontrol buang air besar di tempat khusus dan belum bisa cebok sendiri dengan benar.

Namun vaksinasi penyakit tifus perlu diperkuat setiap 3 tahun, karena setelah rentang waktu tersebut kekebalannya dapat berkurang. Setelah mendapat vaksin, sebagian besar tak akan tertular, namun sebagian kecil mungkin saja masih bisa tertular terutama jika bakteri yang menyerangnya termasuk jenis ganas dan masuk ke tubuh dalam jumlah banyak. Jikapun terkena, dengan pemberian vaksin, gejala yang muncul biasanya ringan dan kondisi penyakitnya tak begitu membahayakan. Pencegahan dengan vaksin juga menekan frekuensi komplikasi dan kematian, sekaligus biaya perawatan dan pengobatan.

Sementara Soedjatmiko juga menekankan pentingnya pembekalan pengetahuan P3K kepada para guru hingga tahu persis kapan harus mencurigai demam sebagai penyakit dan bagaimana menangani anak yang mengalami demam atau keluhan lain saat sekolah. "Jangan sampai malah gelagapan atau bengong-bengong saja hingga penanganan jadi terlambat atau salah kaprah," ujarnya.

PENCEGAHAN

Untuk mengurangi kemungkinan penularan penyakit ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

* Saat merawat penderita, baik di rumah maupun RS, harus lebih seksama dan ekstra hati-hati kala membersihkan tubuhnya maupun benda-benda perlengkapannya, terutama yang mungkin tercemar tinjanya. Jangan lupa, selalu mencuci bersih-bersih tangan dengan sabun atau cairan antiseptik setelah mencebokinya.
* Jangan pernah ijinkan anak duduk atau main-main di lantai kamar mandi, karena sisa kotoran yang mungkin tercecer di lantai kamar mandi dapat menularkan penyakit. Meski tak ada penderita, sering-seringlah membersihkan lantai kamar mandi dengan banyak air dan cairan antiseptik; apalagi bila telah digunakan penderita.
* Ajarkan cara cebok yang baik dan benar pada anak yang sudah agak besar maupun pengasuhnya. Begitu pula cara menyiram WC dan lantai kamar mandi.
* Selalu cuci tangan dengan sabun setiap kali bersentuhan dengan penderita.

Sementara pencegahan penyakit ini dapat dilakukan, antara lain dengan cara:

* Saat menyiapkan makanan dan minuman, jangan gunakan tangan secara langsung, tapi pakailah alat bantu semisal sendok, garpu, atau penjepit makanan.
* Kala hendak sekolah, bekali makanan lengkap dengan sendok-garpu dari rumah yang lebih terjaga kebersihannya ketimbang jajan sembarangan.
* Hindari atau minimal waspadai warung makanan. Tak ada salahnya untuk memperhatikan kebiasaan cuci tangan juru masak atau pelayannya maupun pencucian alat-alat makan bekas pakai, sebelum memutuskan makan di kedai tersebut.
* Tanamkan kebiasaan hidup bersih pada anak dan pengasuhnya. Jangan pernah lelah atau menyerah untuk memberi penjelasan, contoh nyata, maupun saat mengawasi pelaksanaannya.
* Gunakan air yang mengalir dari kran untuk mencuci tangan, bukan dari ember atau bak penampung yang jarang dikuras dan dicuci. Begitu juga untuk mencuci bahan makanan, alat masak maupun perlengkapan makan. Untuk mencuci lalap mentah dan buah segar, sebaiknya gunakan air matang.
* Bila mungkin, sediakan sabun untuk masing-masing anggota keluarga. Usahakan pula sumber air bersih sebaiknya terpisah minimal 10 meter dari septic-tank.
Biasakan anak untuk tidak jajan sembarangan.

SELUK-BELUK PENYAKIT TIFUS
Salah besar jika menganggap enteng penyakit ini. Sebab jika kambuh lagi, akan lebih membahayakan.
Penyakit yang ditandai dengan demam tinggi ini kerap menyerang anak-anak. Termasuk balita. Sayangnya, banyak orang tua menganggap remeh tifus. Banyak juga yang masih beranggapan, kalau sudah pernah kena tifus, tak bakalan kena lagi. Padahal, salah besar. Justru lebih bahaya dan bisa menyebabkan kematian.

Di Indonesia, diperkirakan antara 800 - 100.000 orang terkena tifus atau demam tifoid sepanjang tahun. Demam ini terutama muncul di musim kemarau dan konon anak perempuan lebih sering terserang. Yang jelas, meski tifus bisa menyerang anak di atas umur 1 tahun, "korban" paling banyak adalah anak usia 5 tahun. "Tapi belakangan ini, serangan terhadap anak di bawah umur 5 tahun, meningkat jadi 15 persen," kata dr. Arlin Algerina, SpA, dari RS Internasional Bintaro.

MASUK LEWAT MULUT
Demam tifoid, jelas Arlin, adalah infeksi akut yang disebabkan bakteri Salmonella typhi. Tidak seperti virus yang dapat beterbangan di udara, bakteri ini hidup di sanitasi yang buruk seperti lingkungan kumuh, makanan, dan minuman yang tidak higienis. "Dia masuk ke dalam tubuh melalui mulut, lalu menyerang tubuh, terutama saluran cerna."
Proses bekerjanya bakteri ini ke dalam tubuh manusia lumayan cepat. Yaitu 24-72 jam setelah masuk, meski belum menimbulkan gejala, tetapi bakteri telah mencapai organ-organ hati, kandung empedu, limpa, sumsum tulang, dan ginjal. "Rentang waktu antara masuknya kuman sampai dengan timbulnya gejala penyakit, sekitar 7 hari."

Nah, gejalanya sendiri baru muncul setelah 3 sampai 60 hari. Pada masa-masa itulah kuman akan menyebar dan berkembang biak. Organ tubuh lalu merangsang sel darah putih mengeluarkan zat interleukin. Zat inilah yang akan merangsang terjadinya gejala demam. Kuman yang masuk ke hati akan masuk kembali dalam peredaran darah dan menyebar ke organ tubuh lainnya.
Namun tidak seluruh bakteri Salmonella typhi dapat menyebabkan demam tifoid. "Saat kuman masuk, tubuh berupaya memberantas kuman dengan berbagai cara. Misalnya, asam lambung berupaya menghancurkan bakteri, sementara gerakan lambung berupaya mengeluarkan bakteri. Jika berhasil, orang tersebut akan terhindar dari demam tifoid."

KENALI GEJALA
Cara terbaik menghadapi demam tifoid adalah mengetahui gejala awal penyakit ini. Antara lain:

* Demam lebih dari seminggu
Siang hari biasanya terlihat segar namun malamnya demam tinggi. Suhu tubuh naik-turun.
* Mencret
Bakteri Salmonella typhi juga menyerang saluran cerna karena itu saluran cerna terganggu. Tapi pada sejumlah kasus, penderita malah sulit buang air besar.
* Mual Berat
Bakteri Salmonella typhi berkumpul di hati, saluran cerna, juga di kelenjar getah bening. Akibatnya, terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga terjadi rasa mual.
* Muntah
Karena rasamual, otomatis makanan tak bisa masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut. Karena itu harus makan makanan yang lunak agar mudah dicerna. Selain itu, makanan pedas dan mengandung soda harus dihindari agar saluran cerna yang sedang luka bisa diistirahatkan.
* Lidah kotor
Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak akan merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam atau pedas.
* Lemas, pusing, dan sakit perut
* Terkesan acuh tak acuh bahkan bengong
Ini terjadi karena adanya gangguan kesadaran. Jika kondisinya semakin parah, seringkali tak sadarkan diri/pingsan.
* Tidur pasif
Penderita merasa lebih nyaman jika berbaring atau tidur. Saat tidur, akan pasif (tak banyak gerak) dengan wajah pucat.

PENGOBATAN HARUS TUNTAS

Bila demam tifoid masih terbilang ringan, istilahnya gejala tifus atau paratifus, dokter akan menyarankan banyak istirahat, banyak minum, dan obat antibiotik yang diberikan harus dihabiskan.

Perawatan dan pengobatan bertujuan menghentikan invasi kuman, memperpendek perjalanan penyakit, mencegah terjadinya komplikasi, serta mencegah agar tak kambuh kembali. "Sebab, meski masih tahap ringan, kuman terus menyebar dan berkembang-biak dengan cepat," jelas Arlin.
Sayangnya, diagnosa demam tifoid pada anak-anak cukup sulit dilakukan. "Pada sejumlah anak, mereka tak mengeluh mual, pusing, atau suhu tubuhnya tinggi. Anak hanya bisa menangis atau rewel." Pemeriksaan laboratorium pun kerap sulit dilakukan karena anak umumnya meronta jika harus diambil darahnya.

Untuk tifus yang sudah berat, penderita diharuskan menjalani perawatan di rumah sakit. Biasanya selama 5-7 hari harus terus berbaring. "Setelah melewati hari-hari itu, proses penyembuhan akan dilanjutkan dengan memobilisasi bertahap." Hari pertama, dudukkan anak 2 x 15 menit, lalu meningkat 2 x 30 menit di hari kedua, dan seterusnya. Baru kemudian belajar jalan.

BISA KAMBUH LAGI
Yang jelas, lanjut Arlin, demam tifoid tak boleh dianggap enteng. "Harus diobati secara total." Karena itu, jika dosis obat ditetapkan 4 kali sehari, harus ditaati. "Kalau cuma diminum 3 kali sehari, kuman tak akan mati." Pengobatan yang tak tuntas, membuat bakteri akan terus terbawa dan berkembang biak. "Tingkat kemungkinan kambuh lagi, sampai 15 persen."

Arlin kembali mengingatkan, betapa cepatnya bakteri ini berkembang biak dan menjalar ke mana-mana melalui pembuluh darah. "Bisa menyerang paru-paru, hati, hingga otak."

Padahal, jika demam tifoid sudah tergolong berat, akan sulit diobati karena sudah terlanjur terjadi komplikasi. Misalnya, bakteri sudah membuat usus bocor (perforasi) sehingga timbul pendarahan ketika buang air besar. Usus pun sudah sulit sekali mencerna makanan karena selaputnya sudah terinfeksi (peritonitis)."Tak ada jalan lain, kecuali operasi untuk memperbaiki ususnya yang bolong."

Serangan lainnya adalah ke paru-paru yang membuat penderita sulit bernapas. Yang lebih parah, jika bakteri sudah masuk ke otak. "Anak akan kejang-kejang, tak sadarkan diri, bahkan koma beberapa saat."

Pencegah Demam Tifoid
Menurut Arlin, pencegahan harus dilakukan dari 2 hal:

* LINGKUNGAN HIDUP
1. Sediakan air minum yang memenuhi syarat. Misalnya, diambil dari tempat yang higienis, seperti sumur dan produk minuman yang terjamin. Jangan gunakan air yang sudah tercemar. Jangan lupa, masak air terlebih dulu hingga mendidih (100 derajat C).
2. Pembuangan kotoran manusia harus pada tempatnya. Juga jangan pernah membuangnya secara sembarangan sehingga mengundang lalat karena lalat akan membawa bakteri Salmonella typhi. Terutama ke makanan.
3. Bila di rumah banyak lalat, basmi hingga tuntas.

* DIRI SENDIRI

1. Lakukan vaksinasi terhadap seluruh keluarga. Vaksinasi dapat mencegah kuman masuk dan berkembang biak. Saat ini pencegahan terhadap kuman Salmonella sudah bisa dilakukan dengan vaksinasi bernama chotipa (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa (tifoid-paratifoid). Untuk anak usia 2 tahun yang masih rentan, bisa juga divaksinasi.
2. Menemukan dan mengawasi pengidap kuman (carrier). Pengawasan diperlukan agar dia tidak lengah terhadap kuman yang dibawanya. Sebab jika dia lengah, sewaktu-waktu penyakitnya akan kambuh.
Kebal Antibiotik

Yang "mengerikan", papar Arlin, penelitian menunjukkan, kini banyak kuman Salmonella typhi yang kebal terhadap antibiotika. Akhirnya, penyakit ini makin sulit disembuhkan. "Tapi untungnya metode pengobatan juga sudah maju sehingga separah apa pun, bisa disembuhkan."

Hanya saja, jika bakteri sudah menyerang otak, tetap akan membawa dampak. Misalnya, kesadarannya berkurang, kurang cepat tanggap, dan lambat dalam mengingat. Jadi, jangan sepelekan demam tifoid dan rawat anak baik-baik jika ia terserang penyakit ini.

Makanan Yang Dianjurkan
* Boleh semua jenis makanan, yang penting lunak.
* Makanan harus mudah dicerna, mengandung cukup cairan, kalori, serat, tinggi protein dan vitamin, tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas.
* Makanan saring/lunak diberikan selama istirahat
* Jika kembali kontrol ke dokter dan disarankan makan nasi yang lebih keras, harus dijalankan.
* Untuk kembali ke makanan "normal", lakukan secara bertahap bersamaan dengan mobilisasi. Misalnya hari pertama makanan lunak, hari ke-2 makanan lunak, hari ke-3 makanan biasa, dan seterusnya.

TIFUS SCRUB

1. Identifikasi
Penyakit yang disebabkan oleh rickettsia yang ditandai dengan munculnya ulcus primer pada kulit dengan bentuk “punched out” pada bagian kulit yang digigit oleh larva ngengat yang terinfeksi. Beberapa hari kemudian muncul demam, sakit kepala, keringat berlebihan, injeksi konjungtiva, limfadenopati. Seminggu setelah demam berlangsung muncul erupsi pada kulit yang berbentuk makulopapuler berwarna merah gelap pada bagian tubuh, menyebar ke tungkai dan menghilang dalam beberapa hari. Sering disertai dengan batuk dan pada pemeriksaan radiologis pada paru ditemukan pneumonitis. Tanpa dilakukan pengobatan dengan antibiotika yang tepat demam hilang pada hari ke 14.
CFR penderita yang tidak mendapat pengobatan berkisar antara 1 – 60%, tergantung dimana orang itu terkena, jenis rickettsia yang menginfeksi dan tergantung pula pada riwayat orang tersebut terhadap infeksi sebelumnya. Namun CFR selalu lebih tinggi pada usia yang lebih tua.

2. Penyebab penyakit: Orientia tsutsugamushi yang secara serologis ditemukan ada banyak strain yang berbeda.

3. Distribusi penyakit
Penyakit ini tersebar di Asia bagian Tengah, Timur dan Tenggara. Kemudian ditemukan tersebar mulai dari Siberia tenggara, Jepang bagian utara sampai pada kewilayah bagian utara Australia dan Vanuatu, palestina bagin barat, lereng Himalaya sampai ketinggian 10.000 kaki dan banyak ditemukan terutama di Thailand bagian utara. Biasanya manusia mendapatkan infeksi dari tempat yang ukurannya relatif sangat kecil bahkan dalam ukuran meter persegi dimana ditempat tersebut rickettsia, vektor dan rodentia hidup berkoeksistensi dengan baik. Tempat yang terbatas tersebut dinamakan “typhus islands”. Distribusi penyakit menurut jender sangat dipengaruhi oleh jenis pekerjaan. Orang dewasa yang bekerja pada daerah endemis tifus scrub dan didaerah yang densitas populasi ngengatnya tinggi kemungkinan tertular sangat besar. Misalnya mereka yang bekerja pada pembukaan lahn dihutan, daerah padang pasir yang diirigasi. KLB tifus dapat terjadi apabila mereka yang rentan masuk kedaerah endemis, terutama pada waktu dilakukan operasi militer, 20 – 50% dari mereka akan terinfeksi dalam beberpa minggu atau dalam beberapa bulan.

4. Reservoir: Yang menjadi reservoir adalah stadium larva dari ngengat jenis Leptotrombidium abamushi, L. Deliensis dan species jenis lain tergantung wilayahnya. Species tersebut yang paling umum diketahui sebagai vektor trhadap manusia. Siklus penularan pada ngengat berlangsung melalui rute transovarian.

5. Cara penularan: Melalui gigitan larva dari ngengat yang terinfeksi stadium nimfe dan ngengat dewasa tidak hidup dari hospes vertebrata.

6. Masa Inkubasi: Masa inkubasi bisanya berlangsung 10 – 12 hari; bervariasi antara 6 – 21 hari.

7. Masa penularan: Tifus scrub tidak ditularkan dari orang ke orang

8. Kerentanan dan kekebalan: Semua orang rentan terhadap penyakit ini, seseorang yang terserang penyakit ini akan kebal dalam waktu yang cukup panjang terhadap strain homolog dari O. tsutsugamushi dan hanya menimbulkan kekebalan sementara terhadap strain heterolog. Infeksi oleh strain heterolog dalam beberapa bulan akan menimbulkan penyakit yang ringan, namun setahun kemudian akan muncul penyakit yang khas. Serangan kedua dan ketiga terhadap mereka yang tingal di daerah endemis dapat terjadi secara alamiah pada orang-orang yang tinggal di daerah endemis, biasanya penyakit yang ditimbulkan sangat ringan bahkan tanpa gejala. Atau serangan kedua dan ketiga dapat terjadi pada mereka yang pernag terinfeksi namun tidak mendapatkan pengobatan dengan sempurna. Pada berbagai percobaan yang dilakukan belum ditemukan jenis vaksin yang efektif.

9. Cara-cara pemberantasan

A. Upaya pencegahan

1). Hindari kontak dengan ngengat yang terinfeksi dengan upaya profilaktis yaitu dengan mengenakan pakaian dan selimut yang telah diberi mitisida (permethrin dan benzyl benzoate), memakai repelan (diethyltoluamide, Deet®) pada kulit yang tidak tertutup pakaian.

2). Basmilah ngengat dari tempat-tempat tertentu dengan cara menaburkan bahan kimia dengan komposisi hidrokarbon klorida seperti lindane, dieldrin atau chlordane ditanah serta vegetasi disekitar tenda perkemahan, bangunan dipertambangan dan disekitar dearah yang dihuni banyak orang didaerah endemik
3). Pemberian doxycycline selama 7 minggu dengan dosis tunggal sebanyak 200 mg/minggu yang diberikan kepada sekelompok sukarelawan di Malaysia terbukti cukup efektif untuk mencegah terjadinya infeksi tifus scrub

B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya
Laporan kepada institusi kesehatan setempat; Didaerah endemis, tifus scrub dapat dibedakan dengan tifus murin dan tifus yang ditularkan oleh tuma (louseborne typhus). Dikebanyakan negara penyakit ini bukan sebagai penyakit yang wajib dilaporkan
Pengobatan spesifik: Tetrasiklin dosis tunggal (loading dose), diikuti dengan dosis terbagi setiap hari sampai dengan penderita tidak demam lagi (rata-rata selama 30 jam). Kloramfenikol juga cukup efektif dan hanya diberikan jika ada indikasi kontra pemberian tetrasiklin (lihat seksi I, 9B7 diatas). Jika pengobatan baru dimulai 3 hari setelah sakit maka kemungkinan kambuh kembali besar sekali kecuali jika diberikan segera dosis kedua dengan interval 6 hari. Di Malaysia pemberian doxycycline dosis tunggal (5 mg/kg/BB) cukup efektif jika diberikan pada hari ke tujuh, sedngkan di Pulau Pescadores (Taiwan) diberikan pada hari ke lima. Jika dosis kedua ini diberikn lebih awal dari lima hari diperkirakan dapat terjadi relaps. Azithromycin berhasil baik digunakan pada penderita yang sedang hamil.

Mengenal Penyakit Tifus

MENGENAL PENYAKIT TIFUS



Bakteri Salmonella typhi merupakan bakteri yang bertanggung jawab terhadap penyakit ini. Kuman ini dapat hidup lama di air yang kotor, makanan tercemar, dan alas tidur yang kotor. Siapa saja dan kapan saja dapat menderita penyakit ini. Termasuk bayi yang dilahirkan dari ibu yang terkena demam tifoid.

Lingkungan yang tidak bersih, yang terkontaminasi dengan Salmonella typhi merupakan penyebab paling sering timbulnya penyakit tifus. Kebiasaan tidak sehat seperti jajan sembarangan, tidak mencuci tangan menjadi penyebab terbanyak penyakit ini. Penyakit tifus cukup menular lewat air seni atau tinja penderita. Penularan juga dapat dilakukan binatang seperti lalat dan kecoa yang mengangkut bakteri ini dari tempat-tempat kotor.

Masa inkubasi penyakit ini rata-rata 7 sampai 14 hari. Manifestasi klinik pada anak umumnya bervariasi. Demam adalah gejala yang paling utama di antara semua gejala klinisnya. Pada minggu pertama, tidak ada gejala khas dari penyakit ini. Bahkan, gejalanya menyerupai penyakit infeksi akut lainnya. Gejala yang muncul antara lain demam, sering bengong atau tidur melulu, sakit kepala, mual, muntah, nafsu makan menurun, sakit perut, diare atau justru sembelit (sulit buang air besar) selama beberapa hari. Peningkatan suhu bertambah setiap hari. Setelah minggu kedua, gejala bertambah jelas. Demam yang dialami semakin tinggi, lidah kotor, bibir kering, kembung, penderita terlihat acuh tidak acuh, dan lain-lain.

Pada penderita penyakit tifus yang berat, disarankan menjalani perawatan di rumah sakit. Antibiotika umum digunakan untuk mengatasi penyakit tifus. Waktu penyembuhan bisa makan waktu 2 minggu hingga satu bulan.

Vaksinasi tifoid sangat dianjurkan untuk mencegah penyakit. Apalagi jika si kecil terkenal doyan jajan. Juga, anak balita yang sudah pandai “nenangga”, atau yang belum bisa cebok dengan benar. Vaksinasi harus diperkuat setiap 3 tahun. Ini karena setelah kurun waktu itu, kekebalan terhadap penyakit tifus akan berkurang. Umumnya, seusai divaksinasi, tubuh akan kebal, atau kalupun terkena maka penyakit yang menyerang tidak sampai membahayakan anak.

BAYI KENA TIFUS? MASAK IYA, SIH?

Imunisasi untuk mencegah tifus pada bayi memang belum ada. Namun infeksi ini sangat mungkin disembuhkan hingga tuntas.

Rasanya sulit dipercaya kalau si kecil yang masih bayi bisa terkena tifus. Tapi itulah faktanya. Bahkan, dr. Mugiyo, Sp.A. dari RS PMI, Bogor, telah pula mendapatkan banyak kasus neonatal typhoid alias tifus pada bayi.

Demam tifoid atau tifus adalah penyakit saluran cerna yang disebabkan bakteri Salmonella typhi dan Salmonella typhimurium. Bakteri ini hidup di sanitasi yang rendah seperti lingkungan kumuh.

Pada bayi, penyakit ini didapat melalui dua cara penularan, yaitu:

1. Lewat ibu
Penularan bisa terjadi sejak bayi masih dalam kandungan yang dibawa hingga persalinan, dan lewat air susu ibu. Kasus ini didasarkan pada penderita beberapa bayi yang sudah menderita tifus dengan gejala kejang-kejang pada saat beberapa jam atau hari sesudah lahir. Padahal, mereka belum minum ASI atau belum mengonsumsi apa pun. Setelah mengambil sampel dari cairan lumbal ternyata ada kuman tifoid dan kuman ini dibawa dari ibunya sejak si bayi masih di kandungan. Memang kuman tifus itu sifatnya sangat penetratif, bisa menembus dinding-dinding barier.
Sementara, penularan lewat ASI ditemukan pada bayi-bayi yang menyusu secara eksklusif dan berulangkali terserang demam serta diare. Ini, kan, juga sesuatu yang perlu dicurigai karena ASI sebenarnya makanan yang paling higienis untuk bayi. Tapi kenapa bayinya selalu terserang penyakit infeksi, seperti demam dan diare. Setelah diperiksa pencernaanya enggak apa-apa. Setelah diberi antibiotik, sembuh, tapi nanti terserang lagi. Barulah setelah diteliti lebih lanjut melalui serangkaian tes, di antaranya tes darah, ternyata bayi-bayi itu menderita tifus yang ditularkan lewat ASI.

2. Lewat makanan tambahan
Umumnya terjadi bila makanan yang dikonsumsi bayi kurang diperhatikan kebersihannya. Entah saat pengolahan, penyajian, dan pemberian. Akibatnya, bayi terinfeksi kuman yang menjadi penyebab tifus.

GEJALA SUKAR DIDETEKSI
Sayangnya, gejala tifus pada bayi sukar dideteksi. Tak seperti pada anak balita yang sudah bisa mengeluh mual, pusing, atau suhu tubuhnya tinggi. Sementara bayi hanya bisa menangis atau rewel. Kadang disertai demam dan diare sehingga umumnya dokter akan mengira bayi terkena penyakit infeksi saluran pencernaan. Padahal bisa saja dia sebenarnya sudah terserang tifus. Kalaupun diberikan obat antibiotik, hanya menghentikan diare atau demamnya saja. Bisa-bisa nanti tifusnya muncul lagi.

Karena itulah, tifus tak boleh dianggap enteng atau harus diobati secara total. Bakterinya sangat cepat berkembang biak dan menjalar ke mana-mana melalui pembuluh darah. Bisa menyerang paru-paru, hati, hingga otak. Tifus yang sudah tergolong berat akan sulit diobati karena sudah telanjur terjadi komplikasi. Jika bakterinya sudah menyerang paru-paru, penderita akan sulit bernapas. Lebih parah lagi jika bakteri sudah masuk ke otak, bayi bisa kejang-kejang karena radang otak.

BISA DIOBATI
Untungnya, metode pengobatan yang semakin maju sudah bisa menyembuhkan tifus pada bayi. Jika tifusnya ringan (istilahnya gejala tifus atau paratifus), dokter akan menyarankan banyak istirahat, banyak minum, dan obat antibiotik yang diberikan harus dihabiskan. Jika dosis obat ditetapkan 4 kali sehari, maka harus ditaati. Kalau cuma diminum 3 kali sehari, kuman tak akan bersih terbasmi. Pengobatan yang tak tuntas membuat bakteri akan terus terbawa dan berkembang biak. Akibatnya, tingkat kemungkinannya untuk kambuh lagi sangat tinggi.
Tentunya, si bayi harus dirawat baik-baik karena perawatan dan pengobatan bisa menghentikan invasi kuman, memperpendek perjalanan penyakit, mencegah terjadinya komplikasi, serta mencegah agar tak kambuh kembali. Ingat, meski masih tahap ringan, kuman terus menyebar dan berkembang-biak dengan cepat.
Selain itu, sumber tifus pada bayi juga perlu diteliti. Bila penyebabnya ASI, tentu ibunya harus 'dibersihkan' juga dari tifus. Bila tidak, tifus ini bakal kambuh terus. Kalau yang masuk lewat ASI hanya berupa partikel dari tifus, maka yang akan muncul gejala mencret-mencret. Tapi kalau yang menular ke bayi adalah kuman, akibatnya yaitu infeksi yang berisiko menjalar ke otak.
Jadi, selama ibu sebagai sumber penularan tak disembuhkan tuntas, si bayi akan tetap mengalami gangguan. Namun begitu, Mugiyo mengingatkan, ASI jangan sampai dihentikan. Sambil ibu dan bayi diobati, ASI jalan terus karena inilah makanan utama untuk bayi.

PENCEGAHAN TIFUS PADA BAYI

1. Ibu
¨Pada minggu-minggu terakhir sebelum persalinan, pastikan ibu dalam kondisi bebas virus dan kuman agar tak menulari bayinya sewaktu persalinan kelak.
* Jaga kebersihan dan makanan ibu selama menyusui. Pastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi selalu terjamin kebersihannya.
* Periksa kesehatan ibu apabila bayi yang disusui sering diare atau demam.

2. Bayi
* Untuk bayi yang mulai mengonsumsi makanan tambahan, pastikan kebersihan makanannya terjamin.
* Biasakan bayi selalu dalam keadaan bersih. Sehabis kencing atau buang air besar, bersihkan dengan tuntas.
* Lakukan imunisasi wajib sesuai jadwal.

3. Lingkungan
* Sediakan air minum yang memenuhi syarat. Pastikan air diambil dari tempat yang higienis seperti sumur dan produk minuman yang terjamin. Jangan gunakan air yang sudah tercemar. Jangan lupa, masak air terlebih dulu hingga mendidih (1000C).
* Pembuangan kotoran manusia harus pada tempatnya. Jangan pernah membuang kotoran bayi secara sembarangan sehingga mengundang lalat karena lalat akan membawa bakteri Salmonella typhi, terutama ke makanan.
* Bila di rumah banyak lalat, basmi hingga tuntas.
* Lakukan vaksinasi terhadap seluruh keluarga (orang tua dan anak yang lebih besar). Vaksinasi dapat mencegah kuman masuk dan berkembang biak. Saat ini pencegahan terhadap kuman Salmonella sudah bisa dilakukan dengan vaksinasi bernama chotipa (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa (tifoid-paratifoid). Anak usia 2 tahun yang juga rentan terhadap tifus, lakukan vaksinasi.

Bila ada anggota keluarga yang mengidap kuman (carrier), pengawasan diperlukan agar dia tidak lengah terhadap kuman yang dibawanya. Kalau dia lengah, sewaktu-waktu penyakitnya bisa kambuh.

Karakteristik Golongan Darah

Karakteristik Golongan Darah

Golongan Darah O
Pemilik golongan darah O patut beruntung, terutama bagi mereka yang menyukai daging-dagingan. Mereka boleh makan daging sebanyak-banyaknya, kecuali daging olahan. Namun golongan darah ini juga harus mengimbanginya dengan memakan sayur-sayuran yang banyak juga. Boleh juga menyantap minyak jenis nabati, minyak zaitun dan buah segar. Yang harus dihindari ataupun dibatasi ialah : kol, brokoli, kembang kol, sawi, pokcoi, taoge, terong, jamur dan kentang.

Ciri khas :
-Sistem kekebalan tubuh sangat kuat
-Stres dapat direspon denga aktivitas fisik
-Mudah beradaptasi dengan berbagai makanan pada lingkungan yang ditempati
-Tidak cocok melakukan diet
-Dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan tinggi protein dan rendah karbohidratseperti: daging, buah, ikan, dan sayur.

Masalah yang dihadapi :
Kencing manis, gangguan usus dan pencernaan, peredaran darah kurang baik, sakit pinggang dan tulang belakang, kegemukan, kadar kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, kadar asam urat tinggi, penyakit kanker, gout, serangan jantung, dan penyumbatan arteri.

Jenis olahraga :
Melakukan olahraga aerobik yang gerakannya banyak dan cepat(high impact), bisa juga olahraga fisik seperti lari dan beladiri.

Berikut adalah tips hal-hal berkenaan tentang diet golongan darah O:
Sangat bermanfaat : Sapi, kerbau, kambing, rusa, hati/jantung, ikan kod, ikan cucut, ikan ekor kuning
Netral : Ikan mas, belut, lobster, ikan tuna, ikan sarden, udang. telur, mentega, tempe, tahu,susu kedelai, gandum, beras
Pantang : Daging babi, cumi-cumi, sotong, kerang, kodok, gurita, burung puyuh, es krim, keju, susu sapi,yoghurt

Golongan Darah A
Pemilik darah golongan A disarankan mengkonsumsi bahan makanan yang sedikit mengandung lektin. Para pemilik golongan darah ini memiliki lambung dengan kandungan lektin rendah. Jika asupan lektin berlebihan , maka akan mengganggu kesehatan lambung. Selain itu, mereka menghasilkan lendir yang lebih banyak jumlahnya. Ini mengakibatkan resiko terjangkit penyakit alergi, seperti asma, infeksi telinga, dan gangguan pernapasan.
Makanan yang dianjurkan ialah kelompok nabati. Sumber hewani bisa diperoleh dari ikan dan ayam kampung, ini pun dengan jumlah dan frekuensi terbatas. Susu yang dianjurkan adalah susu fermentasi (yoghurt), krim tanpa lemak, keju alami, telur dalam jumlah terbatas.

Ciri khas:
-Sistem kekebalan tubuh tidak sekuat tipe O
-Stres bisa diatasi dengan meditasi
-Orang yang bertanggung jawab dan romantis
-Jalur pencernaan cukup sensitif
-Dianjurkan menjadi vegetarian atau mengkonsumsi makanan tinggi karbohidrat dan rendah lemak

Masalah yang dihadapi:
Cepat marah, serangan jantung, gangguan saluran darah, kanker, dan kegemukan.

Jenis olahraga:
Fisik yang menenangkan dan fokus seperti yoga dan taichi.

Berikut adalah tips hal-hal berkenaan tentang diet golongan darah A:
Sangat bermanfaat : Ikan makarel, Ikan salem, ikan sarden, keong, bayam, brokoli, wortel, jamur, kacang tanah, kacang buncis, susu kedelai, tahu, tempe, beras, bluberi, nanas, & mangga
Netral : Ikan tuna, telur, ikan hiu, ikan ekor kuning, ikan cucut, ayam kalkun, burung dara, jagung,
tapioka, gandum, labu, bawang merah
Pantang : Sapi, kerbau, kambing, bebek, angsa, kelinci, ayam hutan, lobster, gurita, kepiting, belut,
kodok, udang, cumi-cumi, mentega, susu sapi, keju, es krim, kelapa

Golongan Darah B

Pemilik golongan darah B adalah kebalikan dari golongan darah A. Mereka diizinkan menyantap sumber hewani dengan sumber hewani dengan porsi lebih banyak. Namun karena memiliki darah B rentan terhadap penyakit autoimun dan serangan virus, mereka dianjurkan untuk mengkonsumsi sayuran hijau yang kaya magnesium. Daftar makanan yang diperbolehkan adalah semua produk susu kecuali, blue cheese dan es krim, telur ayam baik organik maupun ayam kampung.

Ciri khas:
-Sistem kekebalan tubuh kuat
-Stres bisa diatasi dengan melakukan pekerjaan yang membutuhkan kreatifitas
-Dianjurkan melakukan latihan gerak seperti renang dan jalan kaki
-Dianjurkan juga untuk melakukan diet dengan berbagai variasi dari setaip golongan darah
-Tipe ini sangat cocok untuk asupan susu

Masalah yang yang dihadapi:
Kerusakan sistem syaraf, susah tidur, sakit kepala atau migrain, penyakit hati, gangguan saluran empedu,
gangguan saat haid, sakit tulang belakang, kegemukan dan serangan jantung

Jenis olahraga:
Olahraga fisik sedang dengan unsur mental seperti, hiking, tenis dan berenang

Berikut adalah tips hal-hal berkenaan tentang diet golongan darah B:
Sangat bermanfaat : Kambing, kelinci, rusa, ikan salem, ikan sarden, susu sapi, roti, brokoli, ubi, wortel,
kembang kol, terong, dan teh hijau
Netral : Sapi, kerbau, hati, kalkun, ikan hiu, cumi-cumi, ikan tuna, mentega
Pantang : Bebek, angsa, ayam, belibis, babi, kuda, burung dara, keong, kepiting, katak, lobster, es krim, gandum, tomat, labu, jagung, alpukat, kelapa


Golongan Darah AB
Pola makan pemilik golongan darah AB adalah perpaduan dari golongan A dan golongan B. Penyakit yang beresiko diderita adalah sinus, infeksi telinga, dan gangguan saluran pernafasan. Makanan yang pantang adalah semua produk susu dan dagin olahan. Pemilik darah ini jarang sekali, yaitu 2-5% dari jumlah penduduk. Golongan darah ini bersifat kompleks karena membawa anti gen A dan B.

Ciri khas:
-Sistem kekebalan tubuh sangat toleran
-Stres bisa diatasi dengan melakukan kegiatan spiritual debarengi dengan aktivitas fisik dsan kreatifitas
-Paling mampu beradaptasi dengan lingkungan dan terutama diet
-Punya jalur pencernaan yang sensitif
-Cerdik dan penyabar

Masalah yang yang dihadapi:
Perut kembung, serangan jantung, masalah saluran darah, kanker, kegemukan, susah tidur, sakit sendi, dan tulang

Jenis olahraga:Perpaduan dari golongan darah A dan B diatas.

Berikut adalah tips hal-hal berkenaan tentang diet golongan darah AB:
Sangat bermanfaat : Kambing, domba, kelinci, kalkun, ikan makarel, ikan tuna, ikan sarden, keong, susu kambing,putih telur(ayam), keju, teh hijau, anggur merah.
Netral : Hati, cumi-cumi, ikan mas, mentega, kacang merah, kacang buncis, beras, ayam, brokoli, selada
Pantang : Daging sapi, daging asap, kerbau, ayam, bebek, babi, rusa, kuda, lobster, kepiting, kodok, mentega, es krim, telur bebek, kacang hitam, acar, kelapa, kesemek.

*Dikutip dari SUARA MERDEKA, Kamis 24 April 2008.

Singkirkan Flu dengan cara sederhana

Musim hujan masih terus berlangsung. Satu hal yang dikhawatirkan saat musim hujan tiba adalah terserang penyakit flu. Pilek dan flu adalah penyakit yang paling umum kita hadapi di kehidupan sehari-hari.

Tidak ada obat instan untuk menyingkirkan demam dan flu, namun dengan pengobatan di rumah dan cara sederhana bisa membantu Anda meredakan flu. Yang harus kita lakukan adalah meningkatkan kekebalan tubuh kita dengan mengonsumsi makanan yang tepat dan sehat.

Berikut adalah beberapa cara sederhana dan efektif untuk menyingkirkan flu  :

1. Teh herbal : Cobalah buat teh herbal sendiri dengan menambahkan sedikit daun selasih dan jahe bersama dengan lada hitam. Ramuan ini mampu meredakan demam disertai flu.

2. Buah jeruk : Kandungan utama dari buah jeruk adalah vitamin C. Jadi, kita perlu mengonsumsi buah jeruk karena membantu dalam meningkatkan kekebalan tubuh kita. Meningkatkan asupan vitamin C sangat penting jika Anda merokok, karena merokok meningkatkan risiko Anda terkena flu. Buah jeruk bukan satu-satunya makanan yang kaya akan vitamin C. Kentang, paprika hijau, strawberry, dan nenas juga mampu membantu dalam penyembuhan pilek dan flu.

3. Bawang putih : Sayuran ini merupakan sumber antioksidan dan dipercaya dapat mencegah penyakit jantung. Untuk mendapatkan manfaatnya, bawang putih harus digunakan dalam setiap makanan favorit Anda.

4. Sup ayam : Banyak yang percaya bahwa sup ayam mengandung sifat penisilin alami. Sup ayam panas membantu melegakan saluran udara yang tersumbat dan memberikan lebih banyak energi. Untuk membuatnya lebih manjur, masukkanlah beberapa sayuran favorit Anda, termasuk bawang putih untuk kekuatan penyembuhan ekstra.

5. Makanan panas dan pedas : Banyak penderita flu mengonsumsi makanan pedas hanya untuk mengaktifkan pengecap rasa di lidah. Jadi, cobalah untuk memasak makanan pedas atau makanan lainnya yang mengandung bawang putih dan cabe lebih banyak.

6. Jahe : Khasiat obat dalam jahe sangat besar termasuk membantu mengobati batuk dan demam yang sering menyertai pilek dan flu. Cara terbaik menggunakan jahe dengan menambahkannya ke dalam secangkir teh.

7. Tingkatkan asupan Zinc : Menambahkan lebih banyak makanan yang kaya akan Zinc atau seng pada pola makan adalah satu cara yang baik untuk mencegah flu. Zinc juga mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Tiram, daging merah, dan unggas merupakan sumber terbaik. Bahkan kacang-kacangan dan biji-bijian juga sumber zinc yang besar.

8. Tidur : Ya, tidur tidak hanya membuat kita merasa segar, tetapi juga menyembuhkan demam. Tidur yang baik selama 8 jam membantu Anda dalam menyingkirkan demam.